
Hari ini, suasana di Mutiara Muslimah kembali hidup. Suara tawa, langkah kaki, dan riuhnya obrolan santriwati memecah kesunyian setelah dua pekan mereka menjalani liburan semester ganjil. Bagi saya, hari kedatangan santri selalu membawa getaran tersendiri, ada rasa rindu sekaligus tanggung jawab besar yang kembali hadir di pundak.
Pesan Tanpa “Drama”
Seperti liburan-liburan sebelumnya, beberapa hari sebelum jadwal kedatangan, saya menyapa para orang tua melalui grup WhatsApp wali santri. Pesan saya sederhana namun tegas: “Mohon anak-anakku semuanya agar kepulangan kalian ke pondok tidak perlu diwarnai dengan drama.”
Maksud saya, jangan sampai ada drama rewel yang berkepanjangan atau keterlambatan yang disengaja. Mengapa? Karena kedisiplinan di hari pertama adalah cerminan dari kesiapan mental mereka untuk kembali menuntut ilmu. Kita ingin ananda memulai langkah pertama di semester baru ini dengan ketangguhan, bukan dengan keraguan.
Meluruskan Niat: Agar Langkah Menjadi Ringan
Namun, di atas segalanya, saya selalu mengingatkan santriwati dan juga para orang tua—untuk kembali memperbaiki niat. Sebagaimana yang sering kita pelajari di pondok bersama kitab Ta’lim Al-Muta’allim, Syarah Arbain, dan Al-Lubab fi Kitabil Adab, niat adalah motor penggerak.
“Niatkan kembali untuk tholabul ilmi, niat karena Allah. Dan mengingat pahala jihad serta birrul walidain” pesan saya.
Jika niat sudah benar, maka perjalanan sejauh apapun akan terasa ringan. Rasa kantuk, rindu rumah, dan lelahnya belajar akan berubah menjadi penggugur dosa dan wasilah turunnya ridha Allah. Tanpa niat yang lurus, belajar hanya akan menjadi beban yang menyesakkan dada.
Kedisplinan Tanpa Denda, Keterbukaan dengan Syariat
Di Mutiara Muslimah, saya memang tidak menerapkan sistem denda materi bagi santri yang terlambat. Saya ingin ketaatan mereka tumbuh dari rasa tanggung jawab, bukan karena takut kehilangan uang atau takut pada hukuman fisik.
Bagi wali santri yang memiliki udzur syar’i sehingga ananda terpaksa terlambat, saya selalu membuka pintu komunikasi. “Sampaikan saja, kami selalu mengudzur,” ujar saya. Kejujuran adalah bagian dari adab, dan adab lebih tinggi nilainya daripada sekadar ketepatan waktu yang dipaksakan.
Sajian Hangat Bak Idul Fitri
Sejak pagi buta, dapur pondok sudah mengepul. Saya memutuskan untuk memasak Opor Ayam dalam porsi besar. Aroma rempahnya memenuhi udara, persis seperti suasana pagi Idul Fitri.
Mengapa Opor Ayam? Karena saya ingin menyambut mereka seperti menyambut anak kandung sendiri yang pulang mudik. Saya ingin mereka merasa bahwa pesantren ini adalah rumah kedua mereka. Ada kebahagiaan yang membuncah di hati saya setiap kali melihat wajah-wajah polos itu kembali hadir.
Saya belanja sendiri, meracik bumbu sendiri semuanya karena rasa cinta saya pada santriwati. Ahlan wa sahlan wahai pewaris Nabi shallallahu ’alaihi wassalam…
Dapur sudah siap, kitab sudah menanti, dan ridha Allah insya Allah menyertai.
Kabar Bahagia: Selamat atas Persalinan Ummu Yasmin
Di sela catatan ini, tak lupa saya mengucapkan selamat atas kelahiran putra/putri dari Ummu Yasmin, wali santriwati dari Yasmin (tahun ke-3) asal Sukoharjo. Semoga Allah memberikan keberkahan atas titipan-Nya, menjadikan ananda anak yang shalih/shalihah, hafizh/hafizhah Al-Qur’an, dan berbakti kepada kedua orang tua. Barakallahu laka fil mauhubi laka wa syakartal wahiba.
Salam hangat,
Mudiroh Mulazamah Mutiara Muslimah